tebing curam terdiam
dingin dirimbun sepi pualam
hangat mentari hanyalah teduh
usai pudar kabut kala waktu shubuh
terpaku dalam sendu
yang bergeming hanya air
mengalir melaju
begitu cepat berganti butir butir
tiap titik nya mungkin mesra dengan batu batu
ranting ranting pasir sungai lain waktu
dan terus saja air mengalir
mengacuhkan rindu rindu pergi tersingkir
tapi siapa sangka
bebatuan tetap memilih begitu
getir bersama air yang tak setia
rela dirinya oleh luka luka pilu
apa peduli air
sayangnya kemarau sekalipun tak mampir
sesekali biarkan mereka sebentar merasa kering
merasakan hangat dari lelah terombang ambing