Rabu, 06 April 2016

Lembar 151



tebing curam terdiam
dingin dirimbun sepi pualam
hangat mentari hanyalah teduh
usai pudar kabut kala waktu shubuh

terpaku dalam sendu
yang bergeming hanya air
mengalir melaju
begitu cepat berganti butir butir


tiap titik nya mungkin mesra dengan batu batu
ranting ranting pasir sungai lain waktu
dan terus saja air mengalir
mengacuhkan rindu rindu pergi tersingkir

tapi siapa sangka
bebatuan tetap memilih begitu
getir bersama air yang tak setia
rela dirinya oleh luka luka pilu

apa peduli air
sayangnya kemarau sekalipun tak mampir
sesekali biarkan mereka sebentar merasa kering
merasakan hangat dari lelah terombang ambing