kesepian pagi memendam
separuh dari kesunyian malam
namun tak banyak yang nikmati
sayang sekali dilewati
sibuknya lalu lalang
pusat kota parahiyang
aku hitam masih kopi
membelai cangkir api
jalanan
memadat cepat
bising
mulai semburat
pulas
saja aku menepi
menunggu
kembali malam sepi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar