Rabu, 06 April 2016

Lembar 149

cinta itu mengalami
sakit hati
lambat laun kan menumbuh merasakanya lagi

cinta itu buta
entah siapa penuntunnya
hasrat nurani atau jiwa yang ingin merasakannya

cinta itu epilepsi
sama sekali tak terkendali
klimaks antara hidup dan mati

cinta itu bahasa jiwa
rasanya ingin selalu bersama
tak banyak yang mampu menerjemahkannya menjadi kata

selalu membekas
kehadirannya, kepergiannya, kenangan kenangan yg dibuatnya

tapi cinta itu membutakan cinta sesungguhnya
mengasingkan cinta yang tak akan habis oleh cintanya
hanya jiwa tertentu yang kan tulus tak tersesat cinta hayati
mereka lebih mencintai pembagi cinta itu sendiri